Alasan Mahalnya Mendaki Puncak Carstensz

Alasan Mahalnya Mendaki Puncak Carstensz

Alasan Mahalnya Mendaki Puncak Carstensz

Alasan Mahalnya Mendaki Puncak Carstensz

Butuh puluhan juta Rupiah untuk

mendaki Puncak Carstensz di Papua, satu dari tujuh puncak tertinggi di tujuh benua. Mengapa bisa sebegitu mahalnya? Berikut penjelasannya.

Rata-rata operator tur pendakian di Indonesia, menawarkan harga sampai Rp 50 juta untuk mendaki Puncak Carstensz. Sedangkan operator tur pendakian di luar negeri bisa sampai 27 ribu Dollar (setara Rp 377 juta). Harga yang bikin geleng-geleng kepala.

Mengapa ke Carstensz mahal

itu karena ke sana susah. Belum ada transportasi, konektivitas jalan dan harga barang di sana mahal-mahal,” ujar Ketua Tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015, Maximus Tipagau kepada detikTravel beberapa waktu lalu.

Maximus menjabarkan, tiket pesawat dari Jakarta ke Timika saja seharga Rp 3 juta untuk sekali jalan. Lalu, lanjut lagi naik pesawat dari Timika ke Sugapa seharga Rp 3 juta yang juga sekali jalan.

Pesawat dari Sugapa ke Timika (Afif/detikTravel)

“Dari Sugapa, ke Soangama naik ojek Rp 300 ribu. Belum lagi, biaya angkut logistik dengan sewa pesawat (perintis) harganya Rp 35 juta sekali jalan,” tambah Maximus yang juga selaku pemilik operator pendakian Adventure Carstensz.

Harga logistik sendiri

di Sugapa yang merupakan salah satu desa terdekat dan sudah berkembang, cukup mahal. Satu botol air mineral saja yang 600 liter kalau di Jakarta hanya Rp 5.000-an, di Sugapa bisa Rp 25.000!

“Ya itu tadi, karena belum ada konektivitas, belum ada jalan raya makanya harganya mahal,” ucap Maximus.

Terakhir, adalah biaya sewa porter seharga Rp 7 juta untuk pendakian. Mungkin pendaki menganggapnya mahal tapi tidak untuk para porternya sendiri. Uang segitu, hanya cukup membiayai hidup mereka sehari-hari karena harga barang-barang di desanya mahal-mahal.

Maximus pun menawarkan, Adventure Carstensz yang dikelolanya dapat memberi harga Rp 34 juta untuk pendakian ke Puncak Carstensz. Dengan syarat, harus 10 orang pendaki namun asyiknya bebas untuk kapan saja waktu pendakiannya.

“Saya jual ke turis luar negeri, USD 10 ribu (Rp 139 juta-red). Saya berani murah jual ke dalam negeri dan nggak dapat untung, karena kalau terlalu mahal nanti tidak ada yang mendaki. Sayang dong, orang Indonesia masa nggak bisa naik ke Puncak Carstensz di negaranya sendiri,” pungkasnya.

Baca Artikel Lainnya: