Cara Memijahkan Ikan Cupang

Cara Memijahkan Ikan Cupang

Cara Memijahkan Ikan Cupang

Cara Memijahkan Ikan Cupang

Banyak orang mengadu cupang, padahal dengan memijahkannya sendiri selain rasa puas, hasilnya pun lumayan. Cupang, fighting fish (Betta sp.), adalah ikan hias yang berasal dari Asia seperti Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Ikan ini disukai karena selain bentuk tubuhnya bagus dengan warna – warna metalik yang khas, cupang juga dapat diadu.
Keindahannya terlihat bila ikan ini sedang berlaga. Yakni bila ikan ini mengembangkan sirip – siripnya, dan mengibas – ngibaskannya bak kipas, sambil sesekali mengedokan tutup insangnya kearah lawannya. Bersamaan dengan itu, warna sekujur tubuhnya lebih menyala, sehingga terlihat bagus sekali. Tak heran jika semakin banyak orang yang menggemarinya.
Selama ini, untuk mendapatkan ikan cupang yang bagus, banyak hobiis membeli cupang impor dari Malaysia, Singapura, atau Thailand. Sangat disayangkan, karena sebetulnya kita pun dapat menciptakan ikan cupang yang bagus jika tahu cara memijahkannya.

Calon Induk

Entah karena apa orang enggan menernakan cupang sendiri, padahal memijahkan ikan ini tidaklah sulit. Hanya saja sifat – sifat induk yang akan dipijahkan perlu diperhatikan. Ini dimaksudkan agar anak cupang yang dihasilkan mewarisi sifat induknya, sesuai dengan yang diinginkan.
Cupang yang akan dijadikan induk dipilih sesuai dengan selera dan tujuan. Jika ingin mendapatkan anak – anak cupang yang nantinya jago bertarung, maka pilihlah induk yang jago bertarung. Sedangkan jika ingin mendapatkan anak – anak cupang yang mempunyai penampilan (bentuk dan warna sirip) yang indah, maka calon induk juga dipilih yang penampilannya indah. Biasanya satu keturunan didalam satu lubuk (tempat pemeliharaan) sifat – sifat anak cupang akan seragam.
Selain itu, calon induk yang akan dipijahkan juga harus sehat, dan cukup umurnya (6 bulan). Sebelum dikawinkan, calon induk jantan dan betina dirawat terlebih dahulu di tempat yang terpisah dan tidak bercampur dengan ikan cupang lainnya. Ini dimaksudkan agar calon induk benar – benar siap dan terhindar dari perkelahian dengan cupang lain, yang dapat menyebabkan kerusakan calon induk.
Induk jantan yang baik adalah yang berpenampilan bagus, prima, serta sirip dan sisik – sisiknya utuh. Sedangkan induk betina yang siap pijah, perutnya terlihat gendut. Setelah cupang calon induk didapat dan siap dipijahkan, maka pemijahan bisa dilakukan.

Si Jantan Merayu

Wadah sebagai tempat pemijahan dapat berupa stoples, akuarium, gentong, ember, atau bak semen. Ukuran wadah jangan terlalu besar, juga jantan jangan terlalu kecil. Wadah yang ideal adalah yang berukuran volume 10 – 15 liter air.
Sebelum pemijahan wadah sudah harus disiapkan. Wadah harus bersih, serta bebas dari kuman dan penyakit. Tiga hari sebelum ikan dimasukkan wadah diisi dengan air. Air bisa berasal dari sumur, atau air pam/ledeng yang sebelumnya sudah diendapkan selama 3 hari. Hal ini dilakukan agar ikan terhindar dari pengaruh lumpur, logam berat atau unsur lainnya yang dapat melemahkan induk ikan.
Ikan jantan dimasukkan terlebih dahulu dalam wadah pemijahan. Biasanya 2 – 3 hari kemudian, pejantan membuat busa dipermukaan air. Ini menandakan jantan siap kawin. Busa ini secara naluri digunakan untuk meletakan telur – telur yang dibuahi. Setelah itu barulah betinanya dimasukkan.
Sebelum melakukan perkawinan, biasanya si jantan akan merayu betina dengan mengibarkan siripnya sambil sesekali mengedokan tutup insang dan berlari ke sana kemari. Jika si betina tidak mau dirayu, biasanya si jantan akan memaksa si betina, bahkan bila perlu si jantan akan memukulinya. Maka jangan heran jika sesudah bertelur terlihat luka – luka pada tubuh si betina.
Setelah si betina menyerah/pasrah pada si jantan, perkawinan berlangsung. Perkawinannya unil, si jantan melilit tubuh si betina sambil mengeluarkan sperma untuk membuahi telur yang dikeluarkan betina. Telur Рtelur  diletakan pada busa di permukaan air. Perkawinan biasanya berlangsung antara 1/2 Р1 jam. Setelah perkawinan selesai, perut betina biasanya kempes dan pada tubuh betina akan terlihat belang Рbelang bekas lilitan si jantan.
Setelah selesai bertelur, induk betina dipisahkan dari telurnya dengan hati – hati agar tidak merusak telur. Pemisahan induk dimaksudkan agar telur tidak dimakan oleh induk betina, sedangkan induk jantannya tetap dalam wadah menjaga telur. Selama induk jantan menjaga telur, pada tumpukkan busa yang berisi telur dapat diberi pelindung yang berasal dari daun, seperti daun mangkok – mangkokan atau daun lainnya, bisa juga dengan potongan stirofoam maupun plastik ( potongan ukurannya berkisar 6 – 8 cm ). Pelindung ini dimaksudkan agar telur – telur terhindar dari pengaruh buruk intensitas sinar matahari yang berlebihan dan serangga, maupun hama pengganggu lainnya.

Dua hari menetas

Dua – tiga hari setelah dibuahi biasanya telur menetas. Anak – anak ikan ini sangat kecil, bentuknya seperti jarum. Setelah menetas, induk jantan diangkat dan dipelihara untuk persiapan pemijahan selanjutnya. Ikan yang masih sangat kecil ini tidak perlu diberi pakan selama 3 – 4 hari, karena masih mempunyai cadangan makanan. Pakan berupa cuk (jentik nyamuk) dan daphnia (kutu air) dapat mengganggu hidup anak cupang, karena selain merupakan pesaing dalam mendapatkan oksigen, cuk atau daphnia yang mati dapat menimbulkan penyakit bagi anak – anak cupang.
Setelah dapat berenang dan makan, anak ikan ini dipindahkan ke tempat yang lebih besar untuk pembesaran. Perawatan selanjutnya tinggal pemberian pakan, membersihkan kotoran, serta menjaga suhu dan mengganti air.

Menjaga tetap sehat

Anak cupang umur 1 minggu karena masih kecil, pakannya cukup diberikan 1 kali sehari pada pagi atau siang hari. Pakan berupa artemia atau daphnia (kutu air) yang halus, didapat dengan cara menyaring dengan saringan halus berulang – ulang. Setelah beranjak umur 1 bulan barulah diberikan kutu air yang agak besar. Seterusnya ukuran pakan yang diberikan bisa yang lebih besar sesuai dengan besarnya ikan. Pakanpun tidak hanya daphnia, tetapi dapat berupa hewan lainnya, misalnya cuk (jentik nyamuk), atau cacing sutera. Pemberiannya ditingkatkan menjadi 2 kali sehari pagi dan siang.

Untuk menjaga anak ikan tetap sehat, kualitas air harus diperhatikan. Karena biasanya, kualitas air sangat menentukan kesehatan ikan. Air yang kotor akibat feses atau sisa Рsisa pakan yang tidak dibersihkan akan menimbulkan tumbuhnya bakteri atau penyakit yang dapat menyerang ikan. Biasanya, pada umur muda cupang mudah sekali terserang penyakit seperti white spot. Ikan yang terkena penyakit ini menunjukkan gejala bercak putih pada kulit, selanjutnya ikan akan mati. Selain itu anak ikan dapat pula diserang kutu Рkutu yang menyebabkan tubuh anak ikan bengkok.

Untuk mencegah timbulnya penyakit – penyakit tersebut, kualitas air perlu dijaga. Bila air sudah terlihat tidak jernih atau terlihat adanya kotoran pada dasar wadah, maka air harus segera dibersihakan dengan cara di sifon. Untuk menggantikan air yang terbuang, dapat ditambahkan air baru yang sudah diendapkan terlebih dahulu. Bila perlu, pembersihan air dilakukan setiap hari. Saat membersihkan air, anak – anak ikan yang terserang penyakit diambil dan dipisahkan atau dibuang agar tidak menjalar ke ikan cupang lainnya.
Suhu mempengaruhi hidup anak ikan cupang yang baru menetas. Hal ini terbukti, pada musim panas antara bulan Oktober – Maret saat udara panas, perkembangan anak ikan cupang berjalan normal, dan jumlah kematiannya sedikit. Sebaliknya pada musim hujan antara April – September meskipun telur – telur dapat menetas, namun tingkat kematiannya cukup besar. Untuk itu agar suhu air terjaga tetap konstan terutama pada musim hujan, sebaiknya dipasang heater (pemanas) pada akuarium.
Pada umur 4 bulan biasanya anak ikan sudah dapat dibedakan dengan jelas antara jantan dan betinanya. yang jantan mempunyai ciri sirip – siripnya lebih panjang dan warnanya jelas (menyala), serta perutnya lebih langsing. Sedangkan yang betina biasanya sisrip – siripnya lebih pendek dan warnanya pucat (tidak menyala), serta perutnya lebih besar. Yang betina dapat ditempatkan dalam satu wadah, sedangkan jantannya dipisahkan sendiri – sendiri (soliter) dalam toples agar tidak saling berkelahi, sehingga terhindar dari kerusakan ikan.
Dengan perawatan yang baik, seperti pemberian makan yang teratur, menjaga suhu dan kualitas air tetap sesuai, maka anak ikan akan dapat tumbuh sehat hingga nantinya menjadi induk yang baik sesuai harapan.