Hubungan antara Prinsip Belajar dengan Penetapan Metode Pembelajaran

Hubungan antara Prinsip Belajar dengan Penetapan Metode Pembelajaran

Hubungan antara Prinsip Belajar dengan Penetapan Metode Pembelajaran

Hubungan antara Prinsip Belajar dengan Penetapan Metode Pembelajaran

INOVASI PEMBELAJARAN MIPA DI SEKOLAH DAN ALTERNATIF IMPLEMENTASINYA – Hubungan antara Prinsip Belajar dengan Penetapan Metode Pembelajaran.

Di antara metode-metode pembelajaran yang dirumuskan ini banyak aspek yang harus mendapatkan perhatian dalam terapannya di kelas. Penggantian penampilan guru di kelas dengan suatu alat/media pembelajaran tentu memiliki dampak yang berbeda bagi siswa. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa dalam pembelajaran di kelas akan melibatkan banyak domain yang dapat dicapai lewat interaksi antara guru dengan siswa. Gagne (1965) mengungkapkan 8 tipe belajar yakni belajar signal, belajar stimulus respon, berantai, asosiasi verbal, belajar diskriminasi, belajar konsep, belajar aturan dan problem solving. Ke delapan tipe ini tersusun secara hierarkhis yang diawali dengan belajar signal dan membentuk

hubungan stimulus respon yang dianggap sebagai prasyarat belajar. Selanjutnya rantai dan asosiasi verbal merupakan kelanjutan dari belajar stimulus–respon yang pada gilirannya merupakan prasyarat belajar yang lebih lengkap, sehingga memunculkan kemampuan deskriminasi yang dalam hal ini mendahului belajar konsep. Melalui proses yang lebih lanjut belajar konsep ini merupakan prasyarat bagi belajar yang lebih kompleks sehingga menghasilkan belajar aturan, dan tingkatan belajar aturan inilah yang nantinya mampu mengantarkan siswa untuk melakukan problem solving. Belajar seperti diatas sifatnya hierakhikal, setiap langkah mesti diambil sebelum langkah berikutnya yang dilakukan dengan berhasil.

Dalam kaitaannya dengan pemilihan metode pembelajaran, aktivitas pemilihan metode selalu menuntut guru untuk selalu bertanya dimana posisi siswa, yakni apakah siswa telah berada pada hierarkhi yang tingi dari keterampilan belajar, dan prasyarat apa yang perlu dalam belajar yang lebih tinggi. Dalam kaitan ini pengetahuan tentang kesiapan siswa menjadi sangat penting, seperti halnya saran Ausubel yang menyatakan bahwa ‘mulailah pembelajaran dengan apa yang telah diketahui siswa, yakinlah akan hal itu’. Oleh karena itu, kadar keaktifan siswa ditentukan oleh dua hal pokok yakni (1). informasi tentang keberartian belajar bagi siswa dan (2). kadar penemuan yang didapat dari siswa saat belajar. Ke dua hal ini

memberikan indikasi bahwa ada dua ujung yang ekstrim untuk menilai kebermaknaan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru yakni metode ceramah (guru aktif, siswa pasif) di satu pihak dan metode penemuan (siswa aktif, guru sebagai fasilitator pembelajaran) di lain pihak. Kedua ujung ini tidaklah selalu bertentangan, atau yang satu lebih baik dari yang lain. Oleh karena itu seorang guru haruslah dapat menempatkan dirinya secara baik, metode ceramah barangkali akan bermakna dan efektif dalam tujuan tertentu, misalnya : penyampaian informasi, memberikan pengertian pada siswa. Metode penemuan bermakna dan efektif bagi upaya pembelajaran yang ditekankan pada proses.

Setiap penetapan metode pembelajaran sampai dengan implementasinya di kelas, akan berhasil jika seorang guru mampu menciptakan situasi yang mendukung proses pembelajaran sehingga siswa benar-benar belajar tentang sesuatu materi. Oleh karena itu setiap guru perlu menyadari bahwa prinsip-prinsip belajar tidak terwujud hanya dengan memilih metode pembelajaran semata. Dalam hal ini motivasi belajar siswa amat bergantung pada banyak variabel, misalnya tantangan, kemanfaatan hal yang dipelajari bagi siswa, kemudahan akses belajar di kelas dan

sebagainya. Beberapa aspek yang pilihan yang ada hubungannya antara prinsip belajar dengan metode pembelajaran antara lain motivasi, pelibatan secara aktif, pendekatan pribadi, pentahapan, umpan balik dan transfer belajar.

Motivasi merupakan bagian penting yang perlu mendapatkan perhatian guru, sebab motivasi belajar siswa meningkat apabila materi ditampilkan secara menarik, dapat diterapkan dalam praktik hidup sehari-hari dan membawa manfaat bagi siswa. Dalam hal pemilihan metode pembelajaran, sampai pada tingkat tertentu masih dapat dicapai lewat pemilihan metode tertentu oleh guru. Namun demikian metode partisipatif yang banyak langsung menerapkan pengetahuan siswa untuk materi pelajaran dalam kehidupan sehari-hari siswa akan mampu memberikan peningkatan

gairah siswa untuk mempelajarinya. Pelibatan secara aktif merupakan landasan utama dalam metode partisipatif. Lazimnya apabila siswa merasa dirinya banyak dilibatkan, motivasi (baik motivasi intrinsik maupun ekstrinsik) akan meningkat sehingga memungkinkan semakin banyak materi pelajaran yang dikuasainya. Sebagai catatan penting bagi guru : metode yang dianggap paling partisipatif juga belum menjamin pelibatan siswa secara total, dan keterlibatan siswa ini juga sangat bergantung pada persiapan guru, gaya kepemimpinan guru, gaya belajar siswa, dan

faktor lainnya. Siswa tentu akan bersifat pasif manakala menganggap bahwa materi ajar bermutu rendah atau tingkat komptensi guru rendah khususnya kepedulian dan kecakapan guru kurang.

Sumber : https://forbeslux.co.id/