PELAJARAN YANG DAPAT KITA AMBIL

PELAJARAN YANG DAPAT KITA AMBIL

PELAJARAN YANG DAPAT KITA AMBIL

PELAJARAN YANG DAPAT KITA AMBIL
PELAJARAN YANG DAPAT KITA AMBIL

Hadits ini memberi pelajaran kepada kitadalam beberapa perkara berikut ini:

1). Allah dan Rasul-Nya menghendaki kemudahan dan keringanan bagi umat manusia untuk menjalankan agama-Nya. Allah Ta`ala berfirman:

“Dan tidaklah Allah jadikan bagi kalian dalam agama ini kesulitan.” ( Al-Hajj : 78)

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah senang untuk dijalani rukhsah (kemudahan)-Nya sebagaimana dia benci untuk dijalani kemaksiatan kepada-Nya.” (HR. Ahmad dalam Musnad nya jilid 2 hal. 108 dari Ibnu Umar. Dan hadits ini diriwayatkan pula oleh yang lainnya).

2). Kemudahan dan keringanan yang dimaksud di sini bukanlah berarti mengabaikan kewajiban agama, akan tetapi kewajiban agama itu sendiri adalah kemudahan dan keringanan di banding dengan kewajiban agama bagi umat-umat terdahulu. Contohnya: cara bertaubat bagi umat Nabi Musa `alaihis salam adalah dengan membunuh diri sendiri, sedangkan taubat bagi umat ini adalah hanya dengan meninggalkan secara total kedurhakaan yang ia terjatuh padanya dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatannya serta menyesali perbuatan kedurhakaannya. (Lihat Fathul Bari Ibnu Hajar jilid 1 hal. 93 hadits ke 39)

3). Kewajiban-kewajiban agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam mengandung berbagai kemudahan dan keringanan. Seperti shalat itu kewajibannya ialah dengan berdiri. Bila tidak mampu karena sakit atau sebab lainnya maka boleh dilaksanakan dengan duduk. Dan bila tidak mampu dengan duduk, maka boleh pula dengan terlentang dan selanjutnya. Berwudlu diwajibkan untuk dilakukan dengan air. Tetapi bila tidak memungkinkan karena tidak ada air atau karena sakit, maka boleh dilakukan tayammum dengan debu sebagai pengganti wudlu dan mandi junub. Demikianlah berbagai kewajiban agama Islam selalu diberi berbagai ketentuan yang memudahkan dan meringankan bagi umat ini.

4). Di samping berbagai kewajiban agama, Allah dan Rasul-Nya juga mengajarkan berbagai amalan sunnah dan afdhal . Agar hamba Allah yang menyempurnakan amalan agamanya, melengkapi amalan kewajiban agamanya dengan amalan sunnah dan afdhal . Yang demikian itu lebih tinggi kedudukannya daripada mereka yang hanya mengamalkan kewajiban agama.

5). Dalam menjalankan upaya penyempurnaan amalan agama dengan menjalankan kewajiban dan sunnah serta afdhal , harus diingat bahwa amalan yang wajib lebih utama, harus diperhatikan pengamalannya daripada amalan-amalan sunnah atau afdhal. Karena itu dalam mengamalkan yang sunnah dan afdhal dilarang sampai mengabaikan bahkan meninggalkan yang wajib. Karena yang demikian ini berarti melampaui batas dalam beragama dan dicela Allah Ta`ala dan Rasul-Nya.

6). Menyempurnakan amalan agama itu harus memperhatikan kondisi dan kekuatan jasmani dan rohani. Maka sangat dianjurkan untuk beribadah dalam kondisi badan yang segar dan dilarang beribadah dalam kondisi badan yang sangat letih atau sangat mengantuk.

Sangat dianjurkan pula untuk mempertimbangkan keberlangsungan amalan sampai mati karena itu jangan sampai memperbanyak amalan sunnah dan afdhal yang kiranya hanya dilakukan sesaat kemudian ditinggalkan. Dan dilarang pula untuk memperbanyak amalan sunnah yang berakibat munculnya perasaan bosan dan letih, sehingga meninggalkan amalan itu bahkan meninggalkan pula yang wajib. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

“Wajib kalian menjalankan agama ini yang kiranya kalian mampu untuk langgeng dengan amalan itu. demi Allah, tidaklah Allah itu bosan dalam memberi pahala kepada amalan kalian sehingga kalian bosan beramal dan berhenti untuk beramal karena bosan. Dan amalan agama yang paling disenangi oleh Rasulullah adalah amalan yang langgeng diamalkan oleh pelakunya.” (HR. Bukharidalam Kitab Shahih nya kitabul Iman bab Ahabbud Din Ilallahi Adwanuhu, hadits ke 43 dari Aisyah radliyallahu `anha ).

7). Agama Islam mewajibkan kita untuk memperhatikan haknya badan untuk makan dan minum dan istirahat. Haknya anak dan istri untuk mendapatkan perhatian yang selayaknya dan kemudian haknya Allah untuk diibadahi dan dijalankan ajaran syariat-Nya. Maka dalam menjalankan segenap hak masing-masing pihak itu, tidak boleh ada pihak yang diabaikan haknya. Demikian itulah pengamalan agama yang benar, adil dan dalam batas kewajaran. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya agama ini kokoh, maka beramallah dengannya dengan kelembutan, dan janganlah engkau membikin dirimu tidak suka beribadah kepada Allah karena merasa terlalu berat, karena orang yang terhenti dari bepergiannya itu ialah kendaraannya dan bekalnya tidak mampu lagi melanjutkan perjalanannya sampai ke tempat tujuanya. Oleh karena itu beramallah engkau dengan semangat seperti orang yang menyangka bahwa dia tidak akan mati selama-lamanya dan penuh kehati-hatian seperti orang yang dalam keadaan takut bahwa besok akan mati.” (HR. Al-Baihaqi dalam kitabnya As-Sunanul Kubra jilid 3 hal. 19 dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash).

PENUTUP

Demikianlah Islam amat memperhatikan tabiat kemanusiaan yang penuh kelemahan dan kelalaian. Oleh karena itu Islam adalah agama yang sangat mencocoki fitrah kemanusiaan. Dan beramal dengan agama ini bila dibimbing dengan ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka akan selamat dari sikap melampaui batas yang dicela oleh Allah dan Rasul-Nya. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sangat menganjurkan kita kaum Muslimin untuk menuntut ilmu agama sampai mati.

Sumber : https://aziritt.net/