Pembinaan untuk Peningkatan Kualifikasi Pendidikan

Pembinaan untuk Peningkatan Kualifikasi Pendidikan

Pembinaan untuk Peningkatan Kualifikasi Pendidikan

Dari studi yang dilakukan di setiap kabupaten dan kota di seluruh propinsi masih adanya pengawas satuan pendidikan/sekolah yang belum memiliki kualifikasi sarjana (S1) terutama pengawas TK/SD. Mengacu pada PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pengawas satuan pendidikan minimal berpendidikan S1 bahkan diutamakan berpendidikan S2. Untuk itu, maka pembinaan pengawas satuan pendidikan untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan dapat ditempuh melalui program sebagai berikut:

1. Beasiswa Pemerintah Pusat

Bea siswa pemerintah pusat untuk mengikuti pendidikan program sarjana pada LPTK Negeri atau LPTK Swasta yang terakreditasi minimal B program studi PGSD/PGTK. Beasiswa diperioritaskan kepada pengawas satuan pendidikan yang berpendidikan Diploma terutama pengawas TK/SD agar mencapai kualifikasi Sarjana (S1). Program beassiswa dilaksanakan secara bertahap, sehingga dalam kurun waktu 5 tahun ke depan semua pengawas yang belum sarjana bisa menempuh pendidikian program sarjana. Pada tahap pertama pengawas yang diberikan beasiswa adalah pengawas yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

  • Berusia maksimal 48 tahun.
  • Telah berpengalaman sebagai pengawas satuan pendidik­an minimal 3 tahun.
  • Berpendidikan minimal Diploma.
  • Menyatakan sanggup menyelesaikan program sarjana maksimal 5 semester.
  • Diperioritaskan yang bertugas di daerah terpencil atau daerah perbatasan, atau daerah konflik/rawan keamanan atau daerah bencana.
  • Menunjukkan kemauan dan motivasi untuk mengikuti pendidikan.
  • Pangkat dan golongan minimal III/b dan maksimal IV/a.

2. Bantuan Biaya Pendidikan.

Bantuan biaya pendidikan dari Pemerintah Pusat dan atau dari Pemerintah Daerah untuk mengikuti pendidikan program sarjana pada LPTK Negeri dan atau Swasta terakreditasi minimal B dengan program Studi PGSD/PGTK (khusus untuk pengawas TK/SD). Bantuan biaya pendidikan bisa digunakan untuk biaya SPP, bantuan untuk penulisan skripsi, bantuan untuk membeli buku. Besarnya bantuan maksimum yang diterimakan tiap tahun selama maksimal tiga tahun sebesar gaji pokok PNS golongan IV/a. Bantuan biaya pendidikan bisa diberikan kepada pengawas yang melanjutkan studi pada program sarjana dan yang melanjutkan studi pada program pascasarjana baik S2 maupun S3. Kriteria pemberian bantuan biaya pendidikan adalah sebagai berikut :

  • Pengawas berprestasi dalam melaksanakan tugas kepengawasan, yakni memperoleh indeks kinerja 4 dan 5.
  • Berpengalaman sebagai pengawas satuan pendidikan berturut-turut selama minimal 5 tahun.
  • Bersedia untuk tetap menjadi tenaga pengawas satuan pendidikan sampai masa pensiun.
  • Pangkat/Golongan minimal III/d.
  • Izin Belajar untuk Pendidikan Lanjutan

Izin belajar untuk pendidikan lanjutan, baik untuk program sarjana maupun program pascasarjana. Izin belajar dikeluarkan oleh Dinas Pendidikian setempat. Fasilitas yang diberikan kepada yang memperoloeh izin belajar adalah penggunaan waktu untuk belajar sehingga dapat meninggal­kan tugas paling lama tiga hari dalam seminggu. Bagi pengawas satuan pendidikan yang memperoleh izin belajar semua pembiayaan ditanggung oleh pengawas yang bersangkutan. Bagi pengawas TK/SD disarankan mengambil S1 program studi PGSD/PGTK, bagi pengawas rumpun mata pelajaran di SMP-SMA-SMK disarankan mengambil program sarjana atau pascasarjana bidang kependidikan untuk program studi yang relevan dengan bidang tugasnya, atau program studi: Manajemen Pendidikan, Teknologi Pendidikan, Evaluasi Pendidikan, Pendidikan Usia Dini, Pengembangan Kurikulum, Bimbingan Konseling, Pendidikan Khusus (PLB).

Agar program peningkatan kualifikasi pendidikan ini berjalan efektif beberapa langkah yang bisa ditempuh oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota adalah sebagai berikut:

Melakukan pemetaan tenaga pengawas yang belum berpendidikan sarjana pada setiap UPTD yang ada di wilayahnya. Pemetaan dilakukan untuk memperoleh gambaran karakteristik pengawas yang mencakup ; pendidikan terahir, pangkat dan golongan, usia, pengalaman kerja sebagai pengawas, jenis kelamin, jumlah sekolah binaannya, alamat tempat tinggal. Demikian halnya pendataan pengawas satuan pendidikan yang berminat melanjutkan pendidikan pada program pascasarjana.

Dari pemetaan dan pendatan tersebut akan diperoleh jumlah pengawas yang belum memiliki kualifikasi sarajana dan data pengawas yang mau melanjutkan studi pada program pascasarjana. Dari jumlah tersebut secara bertahap Kepala Dinas Pendidikan mengajukan nama-nama Pengawas Satuan Pendidikan kepada Direktorat Tenaga Kependidikan atau kepada Pemda setempat untuk diusulkan mendapatkan (1) Beasiswa Pendidikan Program Sarjana dan (2) Bantuan Biaya Pendidikan baik untuk Program Sarjana maupun Program pascasarjana.

Direktorat Tenaga Kependidikan dan atau Kepala Dinas Pendidikan mengadakan kerjasama dengan LPTK agar proses pendidikan bagi para pengawas satuan pendidikan yang diberikan beasiswa pemerintah pusat dapat dilaksanakan secara efektif. Lebih dari itu Direktorat dan atau Dinas Pendidikan bisa mengusulkan kepada LPTK agar diberikan mata-mata kuliah yang sangat diperlukan oleh profesi kepengawasan antara lain: Supervisi Pendidikan, Strategi Pembelajaran Efektif, Penelitian Tindakan Kelas. Mata-mata kuliah di atas sangat diperlukan terutama untuk pengawas yang mengambil program studi di luar program studi Manajemen Pendidikan, Teknologi Pendidikan dan Evaluasi Pendidikan baik program sarjana maupun pascasarjana.

Selama pengawas satuan pendidikan mengikuti studi lanjut dengan beasiswa maupun bantuan biaya pendidikan dari pemerintah pusat dan atau pemerintah daerah, Kepala Dinas Pendidikian meminta laporan kemajuan studi pengawas satuan pendidikan pada setiap semester kepada pimpinan LPTK. Jika tidak menunjukkan kemajuan diberikan peringatan lisan dan atau tertulis.

Baca Juga :

Tujuan Pembinaan

Tujuan Pembinaan

Tujuan Pembinaan

Tujuan umum dari pembinaan dan pengembangan karir pengawas satuan pendidikan/sekolah adalah meningkatnya kemampuan dan karir pengawas sehingga dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pengawas satuan pendidikan/sekolah yang profesional. Tujuan tersebut mengimplikasikan pentingnya pembinaan kualifikasi, kompetensi dan peningkatan karir pengawas sebagai jabatan fungsional. Kualifikasi dan kompetensi profesional diharapkan berdampak terhadap peningkatan kinerja dan hasil kerjanya. Sedangkan pengembangan karir diharapkan berdampak terhadap kesejahteraannya.

Tujuan umum pembinaan dan pengembangan karir pengawas satuan pendidikan sebagaimana dikemukakan di atas perlu dijabarkan lebih lanjut menjadi tujuan-tujuan yang lebih khusus agar memudahkan dalam menetapkan program pembinaan. Adapun tujuan khusus pembinaan pengawas satuan pendidikan adalah agar para pengawas satuan pendidikan/sekolah:

  1. Mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya melaksanakan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial pada satuan pendidikan yang dibinanya.
  2. Meningkatnya kompetensi pribadi, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional sehingga dapat mempertinggi kinerjanya.
  3. Mampu bekerjasama dengan guru, kepala sekolah, staf sekolah dan komite sekolah dalam meningkatkan kinerja satuan pendidikan/sekolah binaannya.
  4. Mampu melakukan berbagai inovasi pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah binaannya.
  5. Berjalannya jenjang karir jabatan pengawas melalui angka kredit jabatan fungsional.
  6. Hasil yang diharapkan dari pembinaan dan pengembangan karir pengawas satuan pendidikan/sekolah adalah diperolehnya pengawas yang profesional sehingga dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah binaannnya.

Keberhasilannya pembinaan dan pengembangan karir pengawas satuan pendidikan/sekolah harus terlihat dalam indikator-indikator sebagai berikut:

  1. Meningkatnya kualifikasi pengawas minimal berpendidikan sarjana (SI) terutama bagi pengawas yang berpendidikan Diploma.
  2. Meningkatnya motivasi kerja para pengawas dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengawas profesional.
  3. Meningkatnya kinerja dan hasil kerja pengawas yang ditunjukkan oleh kamjuan-kemajuan mutu pendidikan pada sekolah binaannya.
  4. Meningkatnya pangkat dan jabatan pengawas setelah memenuhi angka kredit sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta kesejahteraan materil dan non-material sesuai dengan jabatan dan prestasi yang dicapainya.
  5. Meningkatnya citra positif para pengawas satuan pendidikan dikalangan stakeholder sekolah.
  6. Meningkatnya kemauan pengawas untuk studi lanjut dan atau meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya sebagai pengawas profesional.

Sumber : https://realviagraforsale-rxonline.com/

Karir Pengawas Sekolah

Karir Pengawas Sekolah

Karir Pengawas Sekolah

A. Pentingnya Pembinaan dan Pengembangan Karir

Pengawas satuan pendidikan diangkat dengan tugas melakukan pembinaan dan pengawasan pendidikan pada satuan pendidikan atau sekolah yang menjadi binaannya. Pengawasan satuan pendidikan meliputi pengawasan akademik dan pengawasan manajerial.

Pengawasan akademik bertujuan membantu atau membina guru dalam meningkat­kan mutu proses pembelajaran agar diperoleh hasil belajar siswa yang lebih optimal. Sedangkan pengawasan manajerial bertujuan membantu dan membina kepala sekolah dalam upayanya meningkatkan mutu pendidikan melalui optimalisasi kinerja sekolah. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengawas satuan pendidik­an/sekolah, diperlukan kemampuan-kemampuan dasar yang dipersyaratkan sebagai pengawas professional. Oleh sebab itu, kompetensi pengawas sekolah perlu ditingkatkan dan dikembangkan secara bekelanjutan. Tanpa memiliki kompetensi profesional dalam hal kepengawasan, para pengawas akan sulit meningkatkan kinerjanya sehingga langsung maupun tidak langsung tidak akan berdampak terhadap mutu kinerja sekolah atau satuan pendidikan yang dibinanya.

Pembinaan dan pengembangan kemampuan profesional pengawas satuan pendidikan harus terus dilakukan agar mereka dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pengawas satuan pendidikan. Pembinaan menjadi tanggung jawab Kepala Dinas Pendidikan setempat.

Pembinaan pengawas satuan pendidikan mencakup pembinaan profesi dan pembinaan karir. Pembinaan profesi diarahkan untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan profesionalnya agar dapat melaksanakan fungsi kepengawasan baik pengawasan akademik maupun pengawasan manajerial. Sedangkan pembinaan karir pengawas diarahkan untuk meningkatkan pangkat dan jabatan fungsionalnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah pengawas dari seluruh propinsi ternyata pembinaan terhadap para pengawas satuan pendidikan dalam rangka meningkatkan kemampuan profesionalnya boleh dikatakan belum berjalan sebagaimana mestinya. Pengawas sekolah berjalan apa adanya dengan tugas pokok dan fungsinya melakukan pengawasan dengan berbekal kemampuan yang telah dimilikinya. Pengawas juga membuat laporan kepada Kepala Dinas Pendidikan tentang apa yang telah dilakukannya sesuai dengan tupoksinya namun laporan tersebut belum dijadikan dasar bagi upaya pembinaan para pengawas. Kalaupun ada pembinaan terbatas pada arahan dan penjelasan Kepala Dinas Pendidikan tentang berbagai kebijakan pendidikan dalam rapat-rapat khusus dengan para pengawas dan pejabat lainnya. Pembinaan para pengawas yang dilaksanakan secara terencana dan bersinambungan yang mengarah pada kemampuan profesional para pengawas dan pengembangan karirnya sebagai tenaga fungsional belum banyak dilaksanakan.

Lemahnya pembinaan para pengawas diduga berkaitan dengan sumberdaya yang terbatas pada setiap dinas pendidikan, baik sumber daya manusia, sumber daya keuangan maupun sumber daya informasi. Selain itu komitmen dinas pendidikan terhadap pentingnya peran pengawas dalam meningkatkan mutu pendidikan terkesan kurang optimal, sehingga program pembinaan bagi para pengawas belum menjadi prioritas.

Pada sisi lain, hasil kerja yang dicapai para pengawas dari pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya belum begitu signifikan terhadap kemajuan-kemajuan sekolah binaannya. Oleh karena itu, posisi, peran dan eksisteni pengawas kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan guru dan kepala sekolah.

Dalam konteks peningkatan mutu pendidikan sejalan dengan PP No. 19 Tahun 2005 tentang standar mutu pendidikan, peranan pengawas satuan pendidikan/sekolah sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan pada satuan pendidikan binaannya. Oleh sebab itu, pembinaan pengawas agar dapat melaksanakan tugas kepengawasan akademik dan manajerial mutlak diperlukan.

Selain dari itu, posisi, peran dan eksistensi pengawas harus dibina agar citra pengawas satuan pendidikan/sekolah lebih meningkat sebagaimana yang kita harapkan. Pengawas harus mempunyai nilai lebih dari guru dan kepala sekolah baik dari segi kualifikasi, kemampuan, kompetensi, finansial dan dimensi lainnya agar kehadirannya di sekolah betul-betul didambakan stakeholder sekolah.

Pembinaan pengawas satuan pendidikan atau pengawas sekolah harus dirancang dan dikembangkan secara terpola dan bersinambungan agar kemampuan profesional dan karir pengawas satuan pendidikan mendorong peningkatan kinerjanya. Pembinaan dilaksanakan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan dan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten dan atau Dinas Pendidikan tingkat propinsi melalui program-program yang jelas, terarah serta dievaluasi secara terencana.

Penempatan tugas pengawas satuan pendidikan menjadi tanggung jawab Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan atau Kabupaten/Kota dengan mempertimbangkan tipe dan kondisi geografis letak sekolah selaras dengan bidang dan jenjang jabatan pengawas. Selanjutnya pembinaan dan pengembangan pengawas satuan pendidikan dilaksanakan secara berkelanjutan agar kemampuan profesional serta karirnya sebagai pengawas satuan pendidikan meningkat sejalan dengan prestasi yang dicapainya. Dengan kata lain pembinaan dan pengembangan pengawas diarahkan untuk memelihara, mempertahankan serta mempertinggi kinerjanya sehingga berdampak pada peningkatan mutu sekolah binaannya. Pembinaan pengawas dimaksudkan sebagai upaya yang terencana dalam memelihara dan meningkatkan kemampuan profesi dan karirnya sehingga mempertinggi kinerjanya sebagai pengawas satuan pendidikan yang professional.

Ruang lingkup pembinaan mencakup pembinaan kualifikasi, profesi dan pembinaan karir. Pembinaan kualifikasi ditujukan agar para pengawas dapat meningkatkan tingkat pendidikan formal sampai minimal berpendidikan Sarjana (SI) bagi yang berpendidikan diploma, dan berpendidikan S2 bagi pengawas yang berpendidikan S1. Pengembangan profesi diarahkan pada peningkatan kompetensi pengawas mencakup kompetensi pribadi, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik dan kompetensi professional. Sedangkan pembinaan karir pengawas diarahkan untuk mempercepat kenaikan pangkat dan jabatan pengawas sesuai dengan ketentuan yang berlaku melalui pengumpulan angka kredit. Jenjang jabatan pengawas mulai dari pengawas pratama sampai pada pengawas utama.

Sumber : https://pharmacygig.com/

Murid SDN Merdeka Makin Berprestasi

Murid SDN Merdeka Makin Berprestasi

Murid SDN Merdeka Makin Berprestasi

Kepala SDN Merdeka Kota Bogor Suwarti menghimbau kepada para orangtua murid

agar selalu mengawasi anak – anaknya saat diberi tugas oleh sekolah terutama untuk murid kelas 6 yang pada semester genap nanti akan melaksanakan Ujian Nasional ( UN ). Hal itu dikatakannya pada saat pembagian raport semester ganjil.

Untuk pembagian raport kali ini, menurut Suwarti mulai terlihat ada peningkatan

anak didiknya dalam berbagai mata pelajaran sehingga pada ajaran baru disemeter genap nanti bisa ditingkatkan lagi. Karena perolehan nilai pada semester ganjil bisa menjadi ukuran disemester genap

“Kami tinggal memberikan pengarahan dan bimbingan kepada mereka sehingga

pada semester genap nanti hasilnya memuaskan,” ujar Suwarti saat ditemui Metropolitan, kemarin. Menurutnya, peningkatan nilai murid bukan hanya tanggung jawab pihak sekolah saja, melainkan tanggung jawab orangtua murid.

“Kami berharap agar orangtua murid juga berperan aktif dalam mengawasi anaknya karena tanggung jawab pendidikan bukan hanya pihak sekolah saja namun menjadi tanggung jawab kita bersama,”pungkasnya.

 

Baca Juga :

Ciptakan Generasi Berahlak Sejak Dini

Ciptakan Generasi Berahlak Sejak Dini

Ciptakan Generasi Berahlak Sejak Dini

Sebagai institusi pemula, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang dibina Pemerintah Desa Pasir Angin, Kecamatan Megamendung memfokuskan pendidikan agama islam kepada para peserta didik. Hal ini dilakukan demi mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas dan bermartabat serta islami. Kepala Desa Pasir Angin. H Endang Setiawan mengatakan, saat ini ada tujuh PAUD yang dibina kader PKK.

“Kami sangat menginginkan bahwa generasi penerus bangsa khususnya warga Pasir

Angin sudah mengerti akan Pemahaman agama dan ilmu pengetahuan sejak usia dini,” kata Endang saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Menurutnya, PAUD binaan kader PKK desa Pasir Angin diantaranya PAUD Al Muflihin yang terletak di wilayah RT 01/03. Animo masyarakat terhadap sekolah PAUD sangat responsif, Karena mendidik anak dan memberikan pemahaman sejak usia dini itu sangat penting.

“Selain menyediakan tempat saat acara samenan atau kelulusan siswa PAUD di aula

desa,” bebernya

Endang menjelaskan, kesungguhan desa dalam memberikan perhatian pada PAUD yang dibina melalui apresiasi dengan memberikan bingkisan bagi siswa yang masuk dalam penilaian terbaik, yaitu mendapatkan ranking satu sampai tiga.

“Kami ingin mencetak generasi penerus yang cerdas, berwawasan kebangsaan dan

berakhlak Karimah, bila diibaratkan bagaikan mengukir diatas batu,” tegasnya

Ia berharap, ke depan generasi penerus bangsa khususnya warga Pasir Angin, tidak buta dalam hal keagamaan, berilmu serta bermanfaat bagi bangsa.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/8AZL/the-origins-of-javanese-in-history

Bima Apresiasi Karya Siswa SMK Kosgoro

Bima Apresiasi Karya Siswa SMK Kosgoro

Bima Apresiasi Karya Siswa SMK Kosgoro

Wali Kota Bogor Bima Arya mengapresiasi, karya para siswa SMK Kosgoro Kota

Bogor. Hal ini disampaikannya saat didampingi sejumlah pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor di Balaikota. Untuk itu, suami dari Hj. Yane itu meminta agar Bidang Pertamanan, PJU dan Dekorasi Kota, pada Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperumkim) Kota Bogor memberikan ruang dititik-titik tertentu supaya dapat diterapkan.

“Riset ini dari pelajar ini harus dilihat jangka panjangnya. Kalau pun saat ini teknologinya memiliki kesamaan dengan yang sudah ada, tapi itu bukan hasil siswa SMK Kota Bogor,” kata Bima Menurutnya, teknologi akan berkembang dan para siswa ini memiliki kreatifitas akan berinovasi terus. “Dan tugas kita menjadi match makingnya serta menjodohkan dengan pihak-pihak lain,” imbuhnya.

Bima menjelaskan, dari pada anggaran yang ada dipakai kegiatan dinas yang tidak

jelas, kegiatan-kegiatan pelatihan yang pesertanya itu-itu saja, puluhan milyar tidak ada hasilnya. Kalau inikan sudah jelas, tinggal dari Dinas KUMKM berapa, dari BJB beri apa, inkubasinya kita yang lakukan. “Sehingga kedepannya mereka nanti mampu memberikan kontribusi bagi Kota Bogor,” bebernya.

Karena, tambah Bima, saat ini SMK mendapat angin segar dengan banyak

munculnya start up, peluang digital dan hal lainnya, tinggal tugasnya untuk memberikan fasilitas bagi para siswa SMK untuk menuangkan dan mengimplementasikan gagasan dan ide para siswa

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/pOln/the-story-of-the-prophet-muhammad-saw-received-the-first-revelation

Strategi Pengujian Software

Strategi Pengujian Software

 

Strategi Pengujian Software

Sebuah strategi, untuk pengujian software mengintegrasikan metode desain kasus pengujian software kedalam langkah-langkah terencanaan yang tersusun rapi sehingga menghasilkan konstruksi software yang sukses. Yang terpenting adalah strategi pengujian software menyediakan jalan bagi software developer, organisasi penjamin kualitas dan pelanggan karena jalan ini mendeskripsikan langkah-langkah yang akan dipakai sebagai bagian dari pengujian yaitu ketika langkah-langkah ini direncanakan dan kemudian dijalankan lalu dapat diketahui berapa banyak usaha, waktu dan sumber daya yang akan diperlukan. Oleh karena itu, strategi pengujian manapun harus menyertakan perencanaan pengujian, desain kasus pengujian, pelaksanaan pengujian dan koleksi serta evaluasi data resultan.


Strategi pengujian software haruslah cukup fleksibel untuk mempromosikan kreatifitas dan customisasi yang diperlukan bagi pengujian semua system software berskala besar. Pada saat yang sama, strategi haruslah cukup kaku untuk mempromosikan perencanaan yang layak dan tracking manajemen sebagai jalannya proyek.
Shooman[SHO83] :
Dalam berbagai bentuk, pengujian atau testing adalah proses yang bersifat individu dan banyaknya jenis perbedaan dari variasi pengujian sebanyak perbedaan dalam pendekatan pengembangan. Dalam beberapa tahun, pertahanan kita menghadapi error dalam pemrograman hanyalah desain yang hati-hati dan kecerdasan alami dari programmer. Sekarang kita berada pada masa dimana teknik desain modern [dan review dari teknik formal] membantu kita untuk menurunkan jumlah dari error yang terinisialisasi dan tidak dapat dipisahkan dari kode. Dengan cara yang sama, metode pengujian yang berbeda diawali untuk mengikat error kedalam beberapa pendekatan dan filosofi yang berbeda.
Pendekatan dan filosofi inilah yang akan disebut strategi.
Pendekatan strategi dalam pengujian software
Pengujian atau testing adalah aktifitas yang dapat direncanakan kedepannya dan penyelenggaraannya secara sistematis. Karena alasan ini untuk pengujian software haruslah didefinisikan dalam proses rekayasa perangkat lunak atau software engineering.
Sejumlah strategi pengujian software telah diusulkan dalam literatur. Semuanya menyediakan developer software dengan template untuk pengujian dan semuanya memiliki memiliki karakteristik umum:
— Testing dimulai pada level modul dan bekerja keluar kearah integrasi pada sistem berbasiskan komputer
— Teknik testing yang berbeda sesuai dengan poin-poin yang berbeda pada waktunya
— Testing diadakan oleh software developer dan untuk proyek yang besar oleh group testing yang independent
— Testing dan Debugging adalah aktivitas yang berbeda tetapi debugging harus diakomodasikan pada setiap strategi testing
Sebuah strategi untuk pengujian software harus mengakomodasi pengujian tingkat rendah yang diperlukan untuk memverifikasi segmentasi source code yang kecil apakah telah dengan benar diimplementasikan sebaik pengujian pada pengujian tingkat tinggi yang memvalidasi fungsi system utama dalam menghadapi kebutuhan pelanggan. Sebuah strategi haruslah menyediakan petunjuk bagi praktisi dan manajer. Karena langkah-langkah dalam strategi pengujian terjadi pada saat tekanan deadline meningkat, kemajuan harus terukur dan permasalahan harus diketahui secepat mungkin.
Verifikasi dan Validasi
Pengujian Software adalah satu elemen dari sebuah topik broader yang sering diartikan sebagai
è Verifikasi dan Validasi (V&V)
Verifikasi : menunjuk ke kumpulan aktifitas yang memastikan bahwa software mengimplementasi sebuah fungsi spesifik.
Validasi : menunjuk ke sebuah kumpulan berbeda dari aktivitas yang memastikan bahwa software yang telah dibangun dapat di-trace terhadap kebutuhan customer.
Boehm [BOE81]:
Verifikasi: “Apakah kita membangun produk dengan baik?”
Validasi: “Apakah kita membangun produk yang baik?”
Defenisi V&V meliputi banyak aktifitas SQA, termasuk review teknis formal, kualitas dan audit konfigurasi monitor performance, tipe yang berbeda dari pengujian software study feasibility dan simulasi.

PROPOSISI ADALAH

PROPOSISI ADALAH

 

PROPOSISI ADALAH

Proposisi adalah kalimat yang terdiri atas Subjek dan Predikat. Syarat-syarat proposisi :
1. Proposisi tidak boleh berupa kalimat tanya.
Contoh : Siapa yang menutup pintu ?
2. Proposisi tidak boleh berupa kalimat perintah.
Contoh : Kamu tidak boleh pulang malam !
3. Proposisi tidak boleh berupa kalimat harapan.
Contoh : Semoga jalan raya tidak macet.
Semoga hari ini hujan.

Proposisi dibagi menjadi 4 aspek.
1. Proposisi berdasarkan aspek bentuk.
Berdasarkan bentuk, proposisi terbagi menjadi 2 jenis :
a. Proposisi tunggal
Proposisi yang terdiri atas 1 subjek dan 1 predikat.
Contoh : Saya pergi ke pasar.
Saya tidak bisa tidur.
b. Proposisi Jamak
Proposisi yang terdiri dari 1 subjek dan lebih dari 1 predikat.
Contoh : Ibu pergi ke pasar kemudian mengajar.

2. Proposisi berdasarkan aspek Sifat.
Berdasarkan sifat, proposisi ini terbagi menjadi 2 jenis :
a. Proposisi Kategorial
Proposisi Kategorial adalah proposisi yang hubungan antara subjek dan predikatnya tidak
memerlukan syarat apapun.
contoh : Semua harimau termasuk karnivora.
Semua penjahat masuk neraka.
b. Proposisi Kondisional
Proposisi Kondisional adalah proposisi yang memerlukan syarat tertentu.
contoh : Jika aku kaya, aku akan menyumbangkan kekayaanku pada semua orang.
Semua orang yang berdosa, akan pergi ke neraka.
Jika aku mencuri, aku akan ditangkap polisi.
Proposisi Kondisional memiliki 2 jenis :
@ Proposisi Kondisional Hipotesis
Proposisi ini memiliki syarat dan sebab
@ Proposisi Kondisional Disjunctive
Proposisi ini mengandung 2 pilihan ternatif.
Contoh : Gusdur adalah ulama atau budayawan.
Gusdur adalah Ulama

3. Proposisi berdasarkan aspek Kualitas.
Proposisi Kualitas terbagi menjadi 2 jenis :
a. Proposisi positif atau afirmatif
Proposisi ini terjadi apabila ada kesesuaian antara subjek dengan predikat
Contoh : Semua dokter adalah orang pintar.
Semua pembunuh adalah orang jahat.
Semua yang berjilbab adalah wanita.
b. Proposisi Negatif
Proposisi ini tidak memiliki kesesuaian antara subjek dengan predikat.
contoh : Semu gajah bukan harimau.
Sewmua penjahat bukan orang baik.

4. Proposisi berdasarkan aspek Kuantitas, terbagi menjadi 2 jenis :
a. Proposisi umum atau universal
Contoh : Semua mahasiswa memiliki Kartu Tanda Mahasiswa.
Semua penjahat masuk neraka.
b. Proposisi Khusu atau Spesifik
Contoh : Sebagian mahasiswa berjilbab.

Seandainya aku menjadi teman Gayus Tambunan

Seandainya aku menjadi teman Gayus Tambunan

Seandainya aku menjadi teman Gayus Tambunan

Saya berpikir, apabila saya menjadi teman dari seorang Gayus Tambunan, apa yang akan saya lakukan. Beberapa hal terlintas dalam pikiran saya, saya akan mengikuti jejaknya, saya akan memanfaatkan harta kekayaannya, atau saya akan berusaha memberikan nasihat yang dapat mengembalikan dia ke jalan yang benar.

Sebagai teman yang baik, seharusnya pilihan ketiga yang harus dipilih. Memberikan sebuah nasihat yang baik, bukanlah sesuatu yang mudah, apabila kita tidak memiliki keteguhan hati dan dasar keimanan yang kuat. Oleh karena itu, apabila saya dapat memberikan nasihat yang baik, dan disertai dengan tindakan mengajak Gayus ke jalan yang benar, mungkin seorang Gayus Tambunan tidak akan terjebak ke dalam masalah ini.

Akan tetapi, seorang sahabat hanya dapat mengajak dan memberikan nasihat. Apa yang akan dipilih dan dilakukan oleh Gayus Tambunan, kembali pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, setiap orang harus menguatkan keimanan dan ketakwaan yang ada didalam dirinya, agar terhindar dari perbuatan yang tidak baik.

Sumber : https://sam-worthington.net/

Yonif 315 Garuda Gembleng Siswa SMPN 1 Bogor

Yonif 315 Garuda Gembleng Siswa SMPN 1 Bogor

Yonif 315 Garuda Gembleng Siswa SMPN 1 Bogor

Sebanyak 104 murid SMPN 1 Kota Bogor digembleng dalam kegiatan implementasi

program kesiswaan Yonif 315 Garuda di Markas Komando, Gunungbatu, Kecamatan Bogor Barat, akhir pekan lalu. Selama tiga hari, para siswa diberikan pelatihan dasar kepemimpinan serta pembinaan dan pengembangan generasi muda di sekolah.

Koordinator kegiatan, Lettu Bhirawa Anoraga, mengatakan, implementasi kepada

siswa-siswi SMPN 1 Kota Bogor ini bertujuan untuk menerapkan kedisiplinan dan jiwa kepemimpinan bagi para calon OSIS dan MPK. Meski ditempa ilmu kedisiplinan di markas TNI, tak ada latihan fisik ala militer yang diberikan kepada siswa. ”Para siswa kami latih dalam Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang meliputi religiusitas, nasionalisme, mandiri, gotong royong, integritas, kedisiplinan dan toleransi antar sesama siswa,” kata pria yang menjabat sebagai P asiops ini.

Kegiatan yang berlangsung tiga hari itu didampingi sepuluh guru pendamping dari

SMPN 1 Kota Bogor serta dilatih 25 pelatih dari Yonif 315 Garuda. ”Kegiatan ini juga dibuka resmi oleh Komandan Yonif 315 Garuda Danyon Rendra Dwi Ardani,” papar Anoraga

 

Baca Juga :